
Sebuah cerpen karya Miftahur Rizkia Pratiwi
Hari itu, terik matahari menyapa para pengunjung pantai Mandalika Lombok. Dan di sanalah Billid kecil berkeliling dengan membawa kotak yang berisikan gelang dan cinderamata untuk dijual kepada para pengunjung yang datang, baik itu turis lokal maupun turis dari luar negeri. Walau kakinya terasa terbakar karena panasnya pasir pantai, tidak membuat Billid patah semangat dalam berjualan. Di saat umurnya yang masih menginjak 8 tahun, Billid rela untuk membantu kedua orangtuanya. Billid sadar, orangtuanya sudah tak mampu lagi untuk mencari nafkah demi mencukupi kebutuhan sehari-hari, bahkan untuk uang jajannya sendiri.
Banyak kendala yang ia alami ketika sedang berjualan, apalagi jika sudah masuk musim hujan, jarang ada pengunjung yang datang. Dan jika hujan, Billid tidak akan berani ikut berteduh bersama pengunjung lain karena takut dimarahi dan dianggap kotor oleh mereka, itu yang ada dalam pikirannya. Jadi ia memilih untuk berteduh di bawah pohon Ketapang walau sebenarnya pohon itu tidak cukup untuk melindungi dirinya dari deras air hujan.
Jika ditanya malu atau tidak, jawabannya pasti tidak. Karena, seluruh hal yang dijalaninya tulus dari ulu hati yang paling dalam. Semua keikhlasan itu muncul untuk membanggakan kedua orangtuanya dengan seragam loreng yang ia dambakan sejak dulu.
Setiap hari, Billid pulang dengan berbagai cerita yang selalu disampaikan pada orangtuanya. Banyak cerita yang ia rangkai di rumah kecil yang hampir rubuh itu, semuanya akan baik-baik saja, jika Bapak dan Ibu masih ada di sampingnya dan menemaninya sampai beranjak dewasa. Tidur beralaskan tikar pandan kecil yang cukup hanya untuk bertiga tidak apa jika didampingi oleh pelukan Ibu yang hangat, kadang juga Bapak selalu memilih untuk tidur di dinginnya tanah yang tidak beralaskan apa-apa.
Paginya, Billid membantu ibu menyiapkan gorengan untuk dibawa ke sekolah, setelah itu ia bergegas untuk mandi dan memakai seragam. Kali ini ia dibantu oleh Bapak untuk merapikan seragamnya. Tiba-tiba Billid membuka pembicaraan dengan mengatakan,
“Billid ingin sekali menjadi Tentara, Pak.” Bapak yang mendengar itu, lantas tersenyum.
“Belajar yang rajin,” ucap bapak sembari merapikan kerah seragam Billid yang masih berantakan,
“Lalu lekas kembali dengan seragam lorengmu,” lanjut bapak sambil menepuk kedua pundak anaknya yang masih kecil. Bisa ia baca tatapan tulus dari Bapak yang membuatnya yakin bahwa seorang Billid bisa menggapai mimpi itu.
Ucapan Bapak tadi pagi, masih melekat di pikiran Billid, yang membuatnya semangat untuk sekolah. Hari itu saat Billid sedang bermain bersama teman-temannya di dekat persawahan, ia bercerita
“Kata Bapak, aku bisa jadi tentara.” Ucap Billid dengan bangga di hadapan teman-temannya itu, beberapa temannya tertawa, karena berfikir Billid pasti tidak akan bisa mencapai apa yang ia inginkan.
“Mimpi kamu terlalu tinggi, Billid. Makan saja kita masih susah, apalagi jika ingin menjadi tentara, banyak biaya yang harus dikeluarkan.” Balas temannya dengan nada remeh. Billid tidak suka diremehkan.
“Tapi kan kita tidak tahu rencana Tuhan ke depannya, pasti ada jalan untuk menemukan terang. Lagi pula, jika tidak menjadi tentara tidak apa-apa, yang penting bisa membanggakan orang tua. Apapun yang kita inginkan sekarang, belum tentu bisa menjadi milik kita nantinya. Bapak selalu bilang seperti itu.” Balas Billid kembali dengan senyuman, beberapa temannya bangga dengan jawaban bijaksana dari Billid kecil.
“Ayo ikut aku.” Ajak Billid pada teman-temannya
“Ke mana?”
“Ke tempat paling sunyi di bumi.”
Billid mengajak teman-temannya ke dalam lembah yang cukup gelap,
“Di sini gelap, Billid. Kamu yakin ini tempatnya?” Tanya salah satu temannya.
“Ikut saja, nanti juga kamu akan terkagum sendiri.” Jawab Billid yang berusaha meyakinkan temannya. Setelah 10 menit berjalan, terlihat senja berwarna jingga yang menawan mata. Teman-temannya tercengang, dengan apa yang mereka lihat,
“Ini yang ku maksud, pasti akan ada terang di ujung kegelapan.”
Billid tumbuh menjadi seseorang dengan hati tulus dan ikhlas. Sekarang usianya sudah menginjak 18 tahun, ia sudah mengerti tentang hiruk pikuk dunia luar yang kejam. Sangat kejam sampai mengambil dua orang tersayang Billid. Peristiwa nahas terjadi, yang merenggut nyawa kedua orangtuanya. Pada saat itu, orangtuanya tertabrak oleh truk yang melaju cepat, ketika pulang setelah membelikan sepatu baru untuk Billid. Billid tidak sempat melihat wajah terakhir dari mereka, hanya batu nisan yang tersisa dengan gundukan tanah penuh bunga. Yang ia lakukan hanya bisa menangis di bawah kelabunya awan hitam yang sedang menyelimuti bumi.
“Billid berjanji akan kembali, Bu, Pak.” Itu kalimat terakhir Billid sebelum meninggalkan tempat peristirahatan terakhir kedua orangtuanya.
Banyak usaha yang Billid lakukan untuk menggapai cita-cita yang diimpikan dari dulu. Ia mulai rajin belajar dengan sungguh-sungguh, serta menyiapkan fisik dan mentalnya untuk menjadi seorang tentara di masa kelak. Kadang jika ia rindu dengan orangtuanya, Billid selalu menulis pada sebuah buku yang dikhususkan untuk menumpahkan seluruh isi hatinya. Salah satu catatan Billid tentang orangtuanya berisi:
Saya dulu pernah bercerita kepada Bapak dan Ibu tentang mimpi saya, setiap saya bercerita tentang hal itu, jawaban yang sama selalu dilontarkan oleh mereka,
“Billid belajar yang baik dulu, banyak-banyak ibadah supaya impianmu tercapai.” Bapak mengatakan itu sambil mencoba menyalakan lilin untuk penerang di malam yang tak terang itu, sedangkan Ibu mengusap kepala saya yang tengah tertidur di pangkuannya. Entah kenapa, lama kelamaan saya bosan dengan ucapan dari Bapak dan Ibu, ucapan mereka seakan-akan membuat saya menjadi tidak yakin untuk menggapai mimpi itu.
Malam-malam yang saya lewati selalu sama, bercerita dengan Bapak dan Ibu, Bapak menyalakan lilin sambil menasehati saya untuk rajin belajar, dan Ibu yang selalu mengusap kepala Saya jika Saya tidur di pangkuannya. Sedangkan saya agak berbeda malam itu, sedikit berlinang air mata saat Bapak mengatakan akan melakukan apapun untuk saya, agar bisa menggapai apa yang saya inginkan nantinya.Untungnya air mata yang jatuh tidak terlalu terlihat karena pencahayaan yang minim.
“Bapak dan Ibu tidak usah bekerja, biar Billid saja yang kerja walau hasilnya tak seberapa. Bapak dan Ibu sudah tua, Billid tidak mau Bapak dan Ibu kenapa-kenapa nantinya.” Suara saya bergetar, mungkin Ibu sudah tahu kalau saya mengatakan hal itu sambil menahan tangis. Tak lama saya merasakan dekapan ibu yang memeluk saya, hangat, Saya sangat suka wangi ibu. Dielusnya kepala saya sambil mengucapkan beribu-ribu doa untuk saya kelak. Sedangkan Bapak hanya menatapi lilin yang sedang menyala sembari terdiam, sesekali saya dengar bapak terisak dan mengusap matanya yang berkaca-kaca.
Banyak pesan billid yang belum tersampaikan pada kalian. Terutama kata terimakasih dan maaf. Biliid ingin berterimakasih karena nyaris seluruh hidup Billid disaksikan oleh Bapak dan Ibu.
Untuk kata maaf, maaf Billid tidak sempat menurunkan kalian ke tempat peristirahatan terakhir Ibu dan Bapak, hanya sekedar gundukan tanah yang bisa Billid peluk dengan rasa menyesal yang menjalar.
Maaf waktu itu Billid hanya bisa membelikan Bapak dan Ibu sebungkus nasi basah yang terkena hujan. Bu, Pak, maaf Billid juga setiap harinya hanya membawa uang hasil berjualan gelang yang tak seberapa.
Billid ingin kembali ke usia 5 Tahun, saat Billid belum mengenal apa itu luka dan duka, Billid rindu ketika hujan turun ke pangkuan bumi untuk sekedar menyapa para penduduknya dan berbincang di kala hujan. Ketika hujan datang, Ibu dengan lembut memeluk Billid dengan tulus dan hangat.
Di kehidupan selanjutnya, Billid ingin Ibu dan Bapak mempunyai kehidupan yang layak di sana. Maaf atas segala hal yang belum bisa Billid berikan untuk kalian.
Sekarang Billid tumbuh sebagai laki-laki dewasa, dengan mengenakan seragam loreng yang ia inginkan dari dulu. Ia menepati janjinya akan kembali. Dikunjunginya makam orangtuanya, lalu di lantunkan beribu-ribu doa untuk mereka,
“Sekarang giliran Billid yang melantunkan doa untuk kalian,” Ucap Billid sambil mengusap kedua nisan itu. “Terimakasih atas segala hal yang Bapak dan Ibu berikan untuk Billid. Sehingga Billid bisa menjadi apa yang Billid Inginkan.”
Tentang penulis :
Miftahur Rizkia Pratiwi, akrab disapa Tiwi, lahir di Mataram pada 31 Mei 2010. Ia tinggal di Dusun Pungkang Daya Baru, Kecamatan Aikmel, dan saat ini (TA 2024-2025) duduk di bangku kelas IX.2 SMP Negeri 1 Aikmel.
Tiwi memiliki minat besar dalam dunia literasi. Hobi utamanya adalah membaca buku, menonton film, dan menulis cerita. Kecintaannya terhadap dunia kepenulisan sudah tumbuh sejak ia duduk di bangku kelas 5 SD. Sejak saat itu, ia kerap menyelesaikan buku-buku fabel dalam hitungan hari dan mulai menulis cerita-cerita yang terinspirasi dari bacaan dan pengalaman sekitarnya.
Cita-cita Tiwi adalah menjadi seorang penulis dan sastrawan, namun ia juga menaruh minat pada dunia politik dan bermimpi menjadi seorang politikus yang mampu membawa perubahan. Beberapa penulis besar yang menjadi sumber inspirasinya adalah Laila S. Chudori, Pramoedya Ananta Toer, dan Valeria Parker. Dari mereka, Tiwi belajar bahwa kata-kata memiliki kekuatan untuk menyentuh, menggerakkan, dan mengubah dunia.
Tiwi berharap suatu saat nanti karya-karyanya bisa memberikan makna bagi banyak orang, serta menjadi bagian dari suara-suara sastra Indonesia yang menggugah dan membekas.



2 komentar
NURHAYATI, Kamis, 5 Jun 2025
Semoga cerita ini bisa menjadi inspirasi bagi setiap pembaca.
WEB ADMIN, Kamis, 5 Jun 2025
Amin